Nama : Sri meildazam
Nim : 24090750101112
Kelas : Bisnis digital (A)
PENGANTAR EKONOMI DAN BISNIS
inflasi dan deflasi
A. Definisi inflasi
Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas atau mengakibatkan kenaikan harga pada barang lainnya. Kebalikan dari inflasi disebut deflasi.
Perhitungan inflasi dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) di Indonesia. BPS melakukan survei untuk mengumpulkan data harga dari berbagai macam barang dan jasa yang dianggap mewakili belanja konsumsi masyarakat. Data tersebut kemudian digunakan untuk menghitung tingkat inflasi dengan membandingkan harga-harga saat ini dengan periode sebelumnya.
B. Pengukuran IHK
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau;
Kelompok pakaian dan alas kaki;
Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga;
Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga;
Kelompok kesehatan;
Kelompok transportasi;
Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan;
Kelompok rekreasi, olahraga dan budaya;
Kelompok pendidikan;
Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran dan
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.
C. Disagregasi Inflasi
Selain pengelompokan berdasarkan COICOP tersebut, BPS saat ini juga mempublikasikan inflasi berdasarkan pengelompokan lain yang dinamakan disagregasi inflasi. Disagregasi inflasi dilakukan untuk menghasilkan indikator inflasi yang menggambarkan pengaruh dari faktor yang bersifat fundamental.
Inflasi Inti, yaitu komponen inflasi yang cenderung stabil atau persisten (persistent component) dalam pergerakannya dan dipengaruhi faktor fundamental. Faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi inti meliputi:
Interaksi permintaan-penawaran
Lingkungan eksternal, seperti: nilai tukar, harga komoditi internasional, dan perkembangan ekonomi global
Ekspektasi inflasi di masa depan.
Inflasi non-inti yaitu komponen inflasi yang cenderung memiliki volatilitas yang tinggi karena dipengaruhi oleh selain faktor fundamental. Komponen inflasi non inti terdiri dari:
Inflasi Komponen Bergejolak (Volatile Food): Inflasi yang dominan dipengaruhi oleh shocks (kejutan) dalam kelompok bahan makanan seperti panen, gangguan alam, atau faktor perkembangan harga komoditas pangan domestik maupun komoditas pangan internasional.
Inflasi Komponen Harga yang Diatur oleh Pemerintah (Administered Prices): Inflasi yang dominan dipengaruhi oleh shocks (kejutan) berupa kebijakan harga Pemerintah, seperti harga BBM bersubsidi, tarif listrik, tarif angkutan, dan sejenisnya.
D. Penyebab inflasi
Penyebab inflasi dapat disebabkan oleh hal-hal berikut.
Tekanan dari sisi penawaran (Cost Push Inflation) : Terjadi ketika inflasi disebabkan oleh tekanan dari sisi penawaran atau peningkatan biaya produksi.
Beberapa faktor penyebabnya meliputi:
Depresiasi nilai tukar: Jika mata uang suatu negara mengalami depresiasi terhadap mata uang asing, harga impor akan naik, sehingga meningkatkan biaya produksi dan akhirnya mendorong inflasi.
Dampak inflasi luar negeri: Inflasi di negara mitra dagang atau di pasar global dapat berdampak pada harga-harga impor, yang dapat meningkatkan biaya produksi di dalam negeri.
Peningkatan harga komoditas yang diatur Pemerintah: Jika Pemerintah mengatur harga komoditas yang penting, kenaikan harga tersebut dapat menyebabkan peningkatan biaya produksi secara umum.
Negative supply shocks : Bencana alam atau gangguan dalam distribusi barang dan jasa dapat mengurangi penawaran, yang berpotensi menyebabkan kenaikan harga
Tekanan dari sisi permintaan (Demand Pull Inflation): Terjadi ketika inflasi disebabkan oleh tekanan dari sisi permintaan atau meningkatnya permintaan barang dan jasa relatif terhadap ketersediaannya. Dalam konteks makroekonomi, kondisi ini digambarkan oleh output riil yang melebihi output potensialnya atau permintaan total (agregate demand) lebih besar dari pada kapasitas perekonomian hal tersebut dapat mendorong kenaikan harga.
Ekspektasi Inflasi: Ekspektasi inflasi adalah faktor yang dipengaruhi oleh persepsi dan harapan masyarakat serta pelaku ekonomi terhadap tingkat inflasi di masa depan. Faktor ini dapat mempengaruhi keputusan konsumen, investor, dan pelaku ekonomi lainnya.
Ada dua jenis ekspektasi inflasi:
Ekspektasi inflasi adaptif: Ekspektasi inflasi yang didasarkan pada pengalaman masa lalu atau data historis.
Ekspektasi inflasi forward-looking: Ekspektasi inflasi yang didasarkan pada analisis dan perkiraan terhadap faktor-faktor ekonomi dan kebijakan yang mempengaruhi inflasi di masa depan.
E. Pentingnya kestabilan harga
Inflasi yang rendah dan stabil merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan yang pada akhirnya memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pentingnya pengendalian inflasi didasarkan pada pertimbangan bahwa inflasi yang tinggi dan tidak stabil memberikan dampak negatif kepada kondisi sosial ekonomi masyarakat. Pertama, inflasi yang tinggi akan menyebabkan pendapatan riil masyarakat akan terus turun sehingga standar hidup dari masyarakat turun dan akhirnya menjadikan semua orang, terutama orang miskin, bertambah miskin. Kedua, inflasi yang tidak stabil akan menciptakan ketidakpastian (uncertainty) bagi pelaku ekonomi dalam mengambil keputusan. Pengalaman empiris menunjukkan bahwa inflasi yang tidak stabil akan menyulitkan keputusan masyarakat dalam melakukan konsumsi, investasi, dan produksi, yang pada akhirnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi. Ketiga, tingkat inflasi domestik yang lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat inflasi di negara tetangga menjadikan tingkat bunga domestik riil menjadi tidak kompetitif sehingga dapat memberikan tekanan pada nilai Rupiah. Keempat, kestabilan harga memiliki peran penting dalam mendukung upaya menjaga stabilitas sistem keuangan.
F. Sasaran Inflasi
Melalui amanat yang tercakup di Undang Undang tentang Bank Indonesia, tujuan Bank Indonesia yaitu mencapai stabilitas nilai Rupiah, memelihara stabilitas sistem pembayaran, dan turut menjaga stabilitas sistem keuangan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Stabilitas nilai Rupiah ini mengandung dua aspek, yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta kestabilan terhadap mata uang negara lain.
Aspek pertama tercermin pada perkembangan laju inflasi, sementara aspek kedua tercermin pada perkembangan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang negara lain. Perumusan tujuan ini dimaksudkan untuk memperjelas sasaran yang harus dicapai oleh Bank Indonesia serta batas-batas tanggung jawabnya. Dengan demikian, tercapai atau tidaknya tujuan Bank Indonesia ini kelak akan dapat diukur dengan mudah. Dalam upaya pencapaian tujuannya, Bank Indonesia menyadari bahwa pencapaian pertumbuhan ekonomi dan pengendalian inflasi perlu diselaraskan untuk mencapai hasil yang optimal dan berkesinambungan dalam jangka panjang.
G. Pengendalian inflasi
Kebijakan moneter Bank Indonesia ditujukan untuk mengelola tekanan harga yang berasal dari sisi permintaan agregat (demand management) relatif terhadap kondisi sisi penawaran. Kebijakan moneter tidak ditujukan untuk merespons kenaikan inflasi yang disebabkan oleh faktor yang bersifat kejutan dan bersifat sementara (temporer) yang akan hilang dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu.
Sementara itu, inflasi juga dapat dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari sisi penawaran ataupun yang bersifat kejutan (shocks) seperti kenaikan harga minyak dunia dan adanya gangguan panen atau banjir. Dari bobot dalam keranjang IHK, bobot inflasi yang dipengaruhi oleh faktor penawaran dan kejutan diwakili oleh kelompok Volatile Food dan Administered Prices yang mencakup kurang lebih 40% dari bobot IHK.
Dengan demikian, kemampuan Bank Indonesia untuk mengendalikan inflasi relatif terbatas apabila terdapat kejutan yang sangat besar, seperti ketika terjadi kenaikan harga BBM di tahun 2005 dan 2008, sehingga menyebabkan adanya lonjakan inflasi.
Dengan pertimbangan bahwa laju inflasi juga dipengaruhi oleh faktor yang bersifat kejutan tersebut maka pencapaian sasaran inflasi memerlukan kerja sama dan koordinasi antara Pemerintah dan Bank Indonesia melalui kebijakan makroekonomi yang terintegrasi baik dari kebijakan fiskal, moneter maupun sektoral. Lebih jauh, karakteristik inflasi Indonesia yang cukup rentan terhadap kejutan-kejutan dari sisi penawaran memerlukan kebijakan-kebijakan khusus untuk permasalahan tersebut.
Dalam tataran teknis, koordinasi antara Pemerintah dan Bank Indonesia telah diwujudkan dengan membentuk Tim Koordinasi Penetapan Sasaran, Pemantauan dan Pengendalian Inflasi (TPI) di tingkat pusat sejak tahun 2005. Anggota TPI, terdiri dari Bank Indonesia dan kementerian teknis terkait di Pemerintah seperti Kementerian Keuangan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Kementerian Perhubungan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Badan Usaha Milik Negara, Sekretaris kabinet, dan Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Menyadari pentingnya koordinasi tersebut, sejak tahun 2008, pembentukan TPI diperluas hingga ke level daerah. Ke depan, koordinasi antara Pemerintah dan BI diharapkan akan semakin efektif dengan dukungan forum TPI baik pusat maupun daerah sehingga dapat terwujud inflasi yang rendah dan stabil, yang bermuara pada pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dan berkelanjutan.
H.Penetapan target inflasi
Target atau sasaran inflasi merupakan tingkat inflasi yang akan dicapai oleh Bank Indonesia dengan berkoordinasi dengan Pemerintah. Dalam Perjanjian Kerja Sama antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan, usulan sasaran inflasi dibahas bersama dalam rapat koordinasi tingkat kementerian dan lembaga dalam TPIP dan kemudian ditetapkan oleh Pemerintah untuk kurun waktu tertentu melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Berdasarkan PMK No.101/PMK.010/2021 tanggal 28 Juli 2021 tentang Sasaran Inflasi tahun 2022, tahun 2023, dan tahun 2024, sasaran inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk tiga tahun ke depan, yaitu periode 2022 – 2024, masing-masing sebesar 3,0%, 3,0%, dan 2,5%, dengan deviasi masing-masing ±1%.
Angka target inflasi dapat dilihat pada situs Bank Indonesia atau situs instansi Pemerintah lainnya seperti Kementerian Keuangan, Kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, atau Kementerian PPN/Bappenas.
A. Definisi deflasi
Deflasi adalah ketika tingkat inflasi menjadi negatif. Ini terjadi ketika harga konsumen turun secara menyeluruh. Penurunan harga dan deflasi yang terjadi biasanya merupakan akibat dari penurunan belanja konsumen dan penurunan permintaan akan produk dan jasa.
Deflasi menyebabkan peningkatan daya beli uang. Sementara banyak konsumen mungkin melihat ini sebagai hal yang baik, deflasi dapat menjadi indikasi resesi atau ketidakstabilan ekonomi. Resesi biasanya berarti upah yang lebih rendah, lebih sedikit pekerjaan, dan penurunan pasar saham. Indeks Harga Konsumen (CPI) bertanggung jawab untuk mengukur tingkat inflasi dan deflasi.
B. Pengukuran deflasi
Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) mengukur inflasi dan deflasi (alias inflasi negatif) menggunakan Indeks Harga Konsumen (CPI), yang merupakan indeks yang mengukur harga sekitar 80.000 barang dan jasa. CPI melacak apakah harga naik (yang mengindikasikan inflasi) atau turun (yang berarti deflasi) seiring waktu.
Perlu dicatat bahwa ada dua indikator ekonomi penting yang tidak dimasukkan BLS ke dalam CPI: pasar saham dan harga perumahan. Daripada menggunakan harga rumah, CPI mengukur biaya ekuivalen bulanan untuk memiliki rumah. Untuk ini, ia menggunakan biaya sewa. Metode ini bisa menyesatkan karena harga rumah dan harga sewa tidak selalu mengikuti lintasan yang sama.
Pemerintah federal melacak laju inflasi untuk memastikan bahwa ekonomi tumbuh pada tingkat yang sehat. Jika inflasi naik terlalu cepat, atau jika kita mengalami deflasi, maka pemerintah biasanya mengambil langkah dengan kebijakan fiskal atau moneter untuk memperbaiki situasi.
C. Penyebab deflasi
Beberapa faktor yang berbeda dapat menyebabkan deflasi, tetapi pada intinya, deflasi terjadi ketika harga barang dan jasa konsumen menurun – Dan harga menurun ketika permintaan untuk produk dan jasa turun sehubungan dengan penawaran.
Penurunan permintaan ini mungkin merupakan akibat dari penurunan ketersediaan uang. Federal Reserve, bank sentral Amerika Serikat, dapat menambah atau mengurangi pasokan uang dan membuat uang lebih sulit didapat dengan menaikkan suku bunga pinjaman. Ketika lebih sulit mendapatkan uang, orang membeli lebih sedikit.
Deflasi juga bisa merupakan hasil dari peningkatan produktivitas. Ketika barang menjadi lebih mudah dan lebih murah untuk dibuat, perusahaan dapat menjualnya dengan harga lebih rendah.
Akhirnya, penurunan permintaan bisa menjadi hasil dari pengurangan pengeluaran pemerintah. Misalnya, katakanlah pemerintah memangkas pengeluaran untuk infrastruktur. Tiba-tiba beberapa keluarga dalam industri yang terkena dampak ini, seperti konstruksi, memiliki lebih sedikit uang untuk dibelanjakan. Permintaan turun, dan harga biasanya turun juga.
D. Dampak deflasi
Deflasi adalah dapat merusak ekonomi suatu negara. Deflasi mengarah pada penurunan pendapatan, dan karenanya bisa memberikan profit untuk bisnis. Orang tidak menghabiskan banyak uang, baik karena mereka tidak punya banyak uang atau karena harganya lebih rendah.
Ketika bisnis melihat keuntungan mereka turun, mereka mungkin harus memotong biaya untuk tetap bertahan. Dalam banyak kasus, mereka melakukan ini dengan merumahkan pekerja dan memotong upah pekerja. Para pekerja yang menganggur atau bergaji rendah harus mengurangi pengeluaran mereka.
Deflasi juga dapat membahayakan tabungan dan rekening pensiun orang. Deflasi sering menyertai penurunan di pasar saham. Dan ketika harga saham turun, tidak jarang orang panik dan menjual saham mereka. Dan jika orang melakukan ini setelah harga anjlok, mereka mungkin melihat penurunan yang cukup besar dalam kekayaan bersih mereka.
Selain itu juga bisa membuat lebih sulit untuk mendapatkan pinjaman. Selama resesi, pemberi pinjaman mengerti bahwa orang sedang berjuang dan mungkin mengalami kesulitan melakukan pembayaran pinjaman. Oleh karena itu, pemberi pinjaman dapat meningkatkan standar kelayakan mereka.
E. Deflasi sangat buruk bagi perekonomiaan
Pada pandangan pertama, deflasi mungkin tampak seperti hal yang baik. Lagipula, konsumen apa yang tidak suka ketika harga turun? Sayangnya, proses jarang berakhir dengan harga turun. Deflasi pada akhirnya adalah spiral ke bawah yang dibangun dengan sendirinya.
Katakanlah permintaan turun karena orang memiliki lebih sedikit uang di saku mereka. Karena permintaan sudah turun, perusahaan harus menurunkan harga. Ketika perusahaan menurunkan harga mereka, keuntungan mereka turun. Ketika laba perusahaan turun, mereka tidak dapat membayar karyawan mereka sebanyak-banyaknya. Dan ketika karyawan tidak menghasilkan banyak uang, mereka memiliki lebih sedikit uang di kantong mereka untuk dibelanjakan. Itu bisa menciptakan lingkaran setan.
F. Efek positif deflasi
Satu-satunya efek positif dari deflasi adalah efek jangka pendek. Deflasi meningkatkan daya beli uang, yang berarti konsumen dapat memperoleh lebih banyak barang dan jasa untuk uang mereka. Dalam jangka pendek, konsumen mungkin dapat melunasi hutang atau menyimpan lebih banyak uang mereka. Namun, akhirnya, kecuali deflasi dikoreksi, dampak positif akan diikuti oleh spiral deflasi dan kontraksi ekonomi yang menurun.
G. Cara pemerintah mengatasi Deflasi
Indeks Harga Konsumen (The Customer Price Index – CPI) membantu Kongres dan Federal Reserve mengawasi pertumbuhan ekonomi dan memastikan semuanya tumbuh pada tingkat yang sehat. Ketika itu tidak terjadi, artinya ketika ekonomi tumbuh terlalu lambat atau terlalu cepat, pemerintah dapat menggunakan kebijakan fiskal dan kebijakan moneter untuk membawa inflasi ke tingkat yang sesuai.
Kebijakan fiskal adalah bagaimana Kongres dan presiden mengendalikan perekonomian. Mereka melakukan ini dalam dua cara: pajak dan pengeluaran. Jadi dalam kasus deflasi, ketika ekonomi tumbuh terlalu lambat atau tidak sama sekali, pemerintah dapat meningkatkan pengeluaran dan / atau memotong pajak untuk membantu meningkatkan permintaan dan pengeluaran konsumen. Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk menempatkan lebih banyak uang di kantong orang sehingga mereka akan menghabiskan lebih banyak, sehingga meningkatkan permintaan.
Kebijakan moneter dilakukan oleh bank sentral suatu negara. Di A.S., Federal Reserve menggunakan kebijakan moneter untuk mengontrol jumlah uang beredar negara. Ini dapat mempercepat atau memperlambat inflasi dengan meningkatkan atau mengurangi ketersediaan uang. Jadi ketika negara tersebut mengalami deflasi, Federal Reserve mungkin menambah pasokan uang.
Mereka juga menurunkan suku bunga, sehingga memudahkan orang untuk mendapatkan pinjaman. Tidak hanya individu dapat memperoleh pinjaman dengan lebih mudah untuk menghabiskan uang, tetapi bisnis juga dapat memperoleh pinjaman untuk mempekerjakan lebih banyak orang dan menumbuhkan operasi mereka.
H. Contoh historis Deflasi
Mungkin contoh deflasi yang paling terkenal adalah Depresi Hebat, yang dimulai dengan jatuhnya pasar saham pada 4 September 1929. Tingkat inflasi selama tahun-tahun itu turun ke angka negatif, terkadang turun di bawah -10%.
Banyak orang yang di-PHK atau tidak mendapatkan bayaran yang cukup, artinya mereka tidak punya uang untuk dibelanjakan. Tingkat pengangguran selama Depresi Hebat mencapai hampir 25%. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), yang merupakan nilai semua barang dan jasa yang diproduksi, turun di bawah nol pada tahun 1930-1933, yang berarti nilai produksi negara itu menurun.
Depresi Hebat adalah contoh yang jelas tentang bagaimana spiral deflasi bekerja. Dan itu tidak sampai kebijakan fiskal Presiden Franklin D. Roosevelt yang memacu agar inflasi mulai tumbuh lagi, menyertai penurunan pengangguran dan peningkatan PDB.
Kesimpulan
Inflasi dimana terjadi kenaikan barang sedangkan deflasi penurunan pendapatan dan deflasi juga memberikan efek buruk pada perekonomian.Secara keseluruhan, keseimbangan antara inflasi dan deflasi sangat penting untuk menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Bank sentral dan pemerintah perlu secara aktif memantau dan mengelola faktor-faktor ekonomi ini untuk mencapai kondisi yang optimal.
Refrensi
Inflasi https://www.bi.go.id/id/fungsi-utama/moneter/inflasi/default.aspx
Deflasi https://pluang.com/blog/glossary/deflasi-adalah

0 Komentar